obrolan sebuah siang

Beberapa hari yang lalu, saya mendengar sebuah obrolan yang menarik ketika saya makan siang di sebuah warung. Obrolan ini antara dua orang ibu-ibu setengah baya, sebut saja Ibu A dan Ibu B (Pemilik Warung). Kira-kira obrolannya seperti ini :

Ibu A : “Jadi totalnya berapa, Bu?” (sambil mengeluarkan dompet)
Ibu B : “Semuanya Rp 11.500,-“ (jawab si Ibu setelah menghitung semua sayur yang dibeli Ibu A)

Ibu A : “Oh ya Bu, kemaren ada titipan 500 perak dari seorang sopir truk” (sambil menyerahkan uang sejumlah Rp 12.000,-)
Ibu B : “Loh, yang 500 perak buat apa ini Bu?” (bertanya dengan keheranan)

Ibu A : “Ohhh, itu kemaren ada sopir yang nitip ke saya. Katanya dulu pernah makan di warung sini tapi kurang 500 perak”
Ibu B : “Oalah… kan cuma 500 perak. Saya juga ga pernah nganggep itu utang koq Bu”

Ibu A : “Iya Bu, saya percaya koq. Tapi itu kan amanah yang harus disampaikan meski hanya 500 perak” (tegas Ibu A meyakinkan)
Ibu B : ” Ya sudah, terima kasih Bu ya. Trus sampaikan terima kasih juga ke sopir itu kalo ketemu lagi”
Ibu A : “Insya Allah Bu, kalau ketemu lagi….”

Saya hanya bisa bersyukur dan tersenyum bangga kepada keduanya ketika mendengarkan percakapan tersebut. Alhamdulillah, di jaman yang seperti sekarang ini, masih ada orang yang mempertahankan KEJUJURAN dan sifat AMANAH meski hanya untuk uang senilai lima ratus perak.

Sungguh, siang itu saya banyak belajar tentang makna sebuah amanah dan kejujuran. Saya belajar dari kejujuran seorang sopir truk ketika ia membayarkan hutangnya yang sebesar 500 perak itu. Saya juga belajar dari “Ibu A” yang memiliki sifat amanah atas uang 500 perak yang dititipkan sopir truk tadi. Dan saya belajar tentang ketulusan yang sebenarnya dari seorang “Ibu B” yang tidak menilai segala sesuatu hanya dari sisi materi saja.

Ahhhhh…. seandainya semua orang di negeri ini mempunyai sifat JUJUR dan AMANAH, saya yakin semua pasti akan menjadi lebih baik.

 


4 thoughts on “obrolan sebuah siang

  1. andai saja pemerintah dan pejabat negara punya sifat kayak gitu….

    mungkin indonesia sekarang dan lebih maju daripada Jepang yah….

    hehee

  2. kejujuran adalah sebuah langkah mundur, sedangkah amanah adalah sebuah arah yang salah. hehe… paling tidak itu yang berada di benak para pemimpin negeri ini.

    but, do not complain, keep moving. negeri ini tidak butuh pemimpin. negeri ini hanya butuh kerja keras para warga negaranya. anggap saja kita tidak memiliki pemimpin negeri. hidup kita sama sekali tidak tergantung kepada pemimpin negeri ini (meskipun mereka yang menciptakan “tatanan hidup” untuk negeri ini sesuai dengan cita-cita mereka, bukan rakyat sebagai pemberi amanah), tetapi bergantung kepada diri kita sendiri, dan apabila kamu seorang yang religius, hidup kita tergantung kepada TUHAN, YESUS, DEWA, ALLAH, atau terminologi apapun dalam agamamu untuk menyebut sesembahanmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s