kehilangan

Ketika mendengar sebuah kata kehilangan, maka bisa jadi ada sebuah korelasi yang kuat dengan kesedihan bahkan juga tangis dan air mata. Bagi siapapun, pasti tidak ingin ada sebuah kehilangan dalam dirinya, apalagi jika itu adalah sesuatu yang sangat berharga.

Meskipun -kata seorang sahabat- “perpisahan (kehilangan) itu adalah keniscyaan”, dengan tipikal manusia keumuman, maka perpisahan ataupun kehilangan itu menjadi sebuah perkara yang berat dan belum tentu tiap orang bisa melewatinya dengan mudah. Tiap orang butuh waktu yang tidak sama untuk bangkit dan kembali bangun hingga akhirnya berlari setelah melewati sebuah fase kehilangan sesuatu yang berharga. Memang, semua yang ada dalam diri ini memang hanyalah titipan Yang Kuasa, dan Dia berhak mengambil ‘titipan’ itu kapan saja. Tugas seorang manusia hanyalah menjaga saja, sampai nanti tiba waktunya Allah mengambil kembali apa yang menjadi hak-Nya.

Hari ini ketika saya membaca sebuah tulisan sahabat saya, ada sebuah kalimat yang tidak asing bagi saya. Lebih tepatnya, saya pernah mengucapkan kalimat itu kepadanya. “Aku takut dan tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya”, itulah kira-kira kalimatnya. Memang berat kehilangan sesuatu yang sangat berarti dan berharga***minimal bagi saya pribadi sangat berarti & berharga, dan saya pernah mengalaminya. Dan ternyata memang menyakitkan dan menyedihkan.

Tapi kini Allah mulai mengembalikan lagi semuanya, justru di saat hati ini sudah bisa mengikhlaskan dan merelakan atas kehilangan yang dulu. Perlahan ‘sesuatu’ yang dulu hilang itu mulai hadir lagi dalam kehidupanku, hingga akhirnya saya merasa berat dan tidak siap jika harus kehilangan lagi.

Saya tahu, suatu saat nanti -dan itu pasti- akan kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Namun saya sungguh tak ingin dan tak pernah siap jika harus kehilangan pada saat-saat ini.

 

..:: jakarta, selepas ashar, seusai hujan ::..
***yan, km sukses menyentil lagi semua percakapan kita kala itu. hanya do’a saja yang bisa terucap tiap kali teringat semua


3 thoughts on “kehilangan

  1. Memang sering kita sedih dikala kita berpisah. Keberartian seseorang baru terasa setelah ia tiada di samping kita. Persahabatan itu baru kita pikirkan dikala kita tergenang di ambang perpisahan. Seolah kita kehilangan. Dan memang demikian. Namun, pernahkan kita berpikir bahwa yang patut kita sedihkan adalah pertemuan? Pertemuan pasti berarkhir dengan perpisahan. Perpisahan berarkhir dengan pertemuan. Trim’s

    Moderator http://www.mandrehe.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s