dan Ramadhan pun tlah berlalu

Hari ini (red -Sabtu, 13 Oktober 2007) bertepatan dengan 1 Syawal 1428H, sebagian umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Fitri. Saya tulis sebagian, karna pada kenyataannya memang ada yang merayakan Idul Fitri kemaren (red -Jumat), tapi bagi saya pribadi hal tesebut tidaklah menjadi sebuah masalah. Toh masing-masing pihak yang berwenang untuk menetapkan 1 Syawal pasti juga punya dasar ilmu, tergantung kita mau mengikuti yang mana. Banyak orang menyebut Idul Fitri sebagai ‘hari kemenangan’. Tapi ada banyak hal yang terus menerus mengisi pikiran saya ketika Ramadhan ini tlah berlalu. Benarkah saya tlah menang?? Menang atas apa?? Hal tersebut yang senantiasa menjadi sebuah pertanyaan besar bagi saya. Seharusnya, setiap moment Idul Fitri menjadi sebuah moment kemenangan setiap Muslim, karna ia tlah mampu menundukkan dan mengendalikan hawa nafsu. Namun, apakah kemenangan itu hanya akan diraih ketika bulan Ramadhan saja?? ataukah 11 bulan setelahnya kita masih bisa berkata bahwa “saya tlah MENANG”. Sungguh, saya sangat khawatir karna saya terlalu berbangga diri di hari ini atas sebuah kemenangan, lalu pada 11 bulan berikutnya saya kalah telak, dan syetan pun tersenyum senang sambil berkata “giliran GUE yang sekarang MENANG”. Na’udzubillah min dzalik. Saya hanya bisa terus berharap, berdoa, dan berusaha semoga saya selalu MENANG di waktu-waktu setelah ini.

Saya tertegun membaca email kiriman seorang sahabat nun jauh di Gemolong sana yang isinya seperti berikut ini,

“walo ramadhan tlah berlalu, namun setidaknya hikmahnya tak ‘kan hilang oleh waktu”

Dan, saya benar-benar menyesal ketika Ramadhan kali ini pun tlah berlalu tanpa usaha yang maksimal untuk memanfaatkannya. Padahal, tahun depan belum tentu tahun Allah masih memberikan kesempatan untuk berjumpa lagi dengannya. Saya pun meng-amin-i, semoga hikmah Ramadhan kali ini tak kan lekang oleh waktu.

Idul Fitri kali ini benar-benar menjadi saat yang spesial buat saya. Pertama kali dalam hidup saya melewatkan Idul Fitri tanpa berkumpul dengan keluarga. Baru pertama kali saya mengikuti sholat ‘Ied di tanah perantauan bernama Jakarta. Ada rasa rindu dan kangen yang bergejolak dalam dada yang harusnya segera diobati. Biasanya, setelah shalat ‘Ied ada acara sungkeman ama Ibu, Bapak, dan Adek. Trus berkunjung ke rumah eyang dan saudara-saudara, untuk berbagi cerita dan pengalaman hidup. Tapi tahun ini berbeda, setelah status saya menjadi kuli IT di NOC Departement yang mempunyai 24 jam operasional, walhasil, kantorpun tidak memberikan jatah libur Idul Fitri untuk saya. Jadilah saya standby selama liburan ini. Mana masih sendiri pulak!!!

Ada suasana yang bener-bener berbeda ketika saat ini saya melewatkan Idul Fitri dengan teman-teman di kantor. Mereka-lah yang kini menjadi keluarga saya di Jakarta. Alhamdulillah… Bahkan hape saya pun menerima ratusan SMS ucapan Idul Fitri dari sahabat-sahabat, dosen, kenalan, teman kantor, yang membuat hidup semakin merasa berarti dan tak lagi merasa sendiri kesepian.

Akhirnya, untuk semua orang yang tlah hadir di kehidupan saya, ijinkanlah dari hati yang terdalam saya mengucapakan :

Selamat Idul Fitri 1428 H
Taqabbalallaha minna wa minkum
Shiyamana wa shiyamakum
Kullu ‘amin wa antum bi khairin
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf
Semoga kita menjadi insan yang senantiasalebih baik dari hari ke hari

Jakarta, 1 Syawal 1428 H, selepas isya @ lovely office
–try to get better day by day–


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s