ketika waktu itu tiba….

Indah benar jawabanmu…
“Insya Allah bersedia…”, itulah kata yang terucap darinya untuk membuka percakapan paling bersejarah dalam hidupku. Setelah sekian lama menunggu kepastian itu, akhirnya batas waktu penantian berakhir sudah. Keputusan itu akhirnya terucap juga dari bibirnya yang tulus. Antara percaya dan tidak, terucap kata “Alhamdulillah….” dari mulutku. “Maha Besar Engkau ya Allah. Sungguh, hamba sangat lemah. Maka, hamba mohon kepadaMu untuk senantiasa memberikan petunjuk di setiap langkah yang terayun, di setiap kata yang terucap, di setiap lelah yang muncul, dan di setiap apapun aktivitas hamba”. Ternyata benar,

“sebentuk pelangi yang hadir itu, kini menjadi matahari yang menyinari kehidupanku”

Entah kata apa lagi yang harus kuucap untuk mengungkapkan rasa syukurku. Benar juga kata temen dekatku, “takkan tertukar rezeki”, kalo jodoh tak kan kemana. Percakapan kali ini tidak berlangsung lama. Hanya sebuah jawaban dan sebuah kesepakatan akan ikatan janji yang akan dilangsungkan beberapa hari sesudahnya.
Saat ini tak banyak yang ingin kulakukan selain terus untuk berucap syukur atas segala nikmat yang begitu banyak terlimpahkan kepadaku.

Wahai calon bidadariku…
Aku adalah orang yang penuh dengan kekurangan, maka lengkapilah kekuranganku dengan kelebihanmu.
Aku adalah orang yang terkadang khilaf, maka ingatkanlah aku saat tutur dan langkahku salah.
Bantu aku…
untuk menjadi seorang anak yang sholeh bagi ayah ibuku.
Bantu aku…
untuk menjadi suami yang baik bagimu.
Bantu aku…
untuk menjadi ayah yang bertanggung jawab bagi anak-anak kita nanti.

Beberapa hari sesudahnya ……
Hari yang sakral tiba sudah. Pagi-pagi benar semua sudah dipersiapkan, seakan tidak mengijinkan satu hal pun yang boleh terlewat. Semua serba sederhana, karena memang hari ini hanya akad nikah saja. Hanya aku, “dia”, dan keluarga kami berdua serta beberapa orang temen dekat.

Bismillahirahmanirrahiim….
Ya Allah mudahkanlah langkah hamba untuk menuju keridhaanmu.

Hati ini sudah teramat mantap meskipun masih didera dengan perasaan gugup yang entah darimana asalnya muncul di dalam hati. Mobil yang akan membawa aku dan keluargaku pun sudah siap di depan rumah.
Namun tiba-tiba….alarm hapeku berbunyi mengingatkanku bahwa saat ini setengah jam sebelum kuliah pagiku. Akhirnya aku terbangun dari tidur pagiku. Dalam keadaan masih ngantuk, akhirnya aku tersadar kalau peristiwa tadi hanya mimpi di pagi hari yang sejuk. Yachh…kecewa!!! kenapa cuma mimpi????

Tapi kenapa mimpi itu begitu indah dan tampak nyata ??? Bahkan degup jantungku pun masih terasa sampai sekarang..

Astaghfirullah…
Ya Allah, kuatkanlah hamba sampai saat “itu” benar-benar datang dalam hidupku, tidak sekedar mimpi seperti pagi ini.

–g0En–


7 thoughts on “ketika waktu itu tiba….

  1. tak kirain juga beneran…tapi ternyata Allah baru memberikan itu di mimpiku…
    Belum saatnya kaleee…minta doanya aja deh

  2. insya Allah aku tidak akan lupa kepada saudara-saudaraku…tenang aja We..semuanya akan diundang koq.
    Tapi kl nt nikah undang jg ya

  3. Huuuuuhhhh….Kirain beneran atuhhh…
    🙂
    Wah-wah-wah-wah-…ternyta dah banyak yg menComent sama…
    ya,smg 4JJ1 mendengar mimpi itu dan m’jd kenyataan…Amien..tp ente jgn lp sm ane tu undangannya…Keh…oorrr…aku yg tertulis dsitu..hehhe:)…Just Kidding euy…

  4. Huuuuuhhhh….Kirain beneran atuhhh…
    🙂
    Wah-wah-wah-wah-…ternyta dah banyak yg menComent sama…
    ya,smg 4JJ1 mendengar mimpi itu dan m’jd kenyataan…Amien..tp ente jgn lp sm ane tu undangannya…Keh…oorrr…aku yg tertulis dsitu..hehhe:)…Just Kidding euy…

    Friday, 26 May, 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s