Category Archives: resensi

ketika cinta bertasbih 2 (review)

KCB2Bagi siapa saja yang sudah membaca ‘Ketika Cinta Bertasbih 1′ mau ga mau akan membeli episode 2. Novel karya Habibburahman El Shirazy ini memang sangat layak untuk dijadikan bacaan wajib bagi siapa saja yang menginginkan pencerahan jiwa. Di episode 2 ini, ada banyak karakter tokoh baru yang dimunculkan, mengingat latar belakang kehidupan tidak lagi di Mesir, tapi di Indonesia. Ada keluarga Kyai Lutfi dengan pesantrennya yang sudah begitu maju dengan ribuan santri. Juga ada keluarga Ibu Nafis dengan Husna, Lia, dan Sarah yang menjadi bagian terbesar dari kehidupan seorang Azzam. Masih banyak tokoh lain, seperti Zumrah dengan cobaan hidup yang begitu memilukan, Kang Paimo, Rina, Tika, dan masih banyak lagi. Selain itu juga masih ada tokoh-tokoh yang ada pada episode 1 seperti Furqan dan Elliana.

Cerita yang ada di episode 2 ini pun masih tetap seru, tidak dapat ditebak, penuh liku-liku, mengharukan dan pasti banyak hikmah dan pelajaran di dalamnya.Ketika akhirnya Anna memilih Furqan daripada Ilyas untuk menjadi pendamping hidup meski masih ada sedikit rasa keraguan yang menghinggapi hati, justru Anna mulai mengenal sosok Azzam dan keluarganya. Namun semuanya menjadi terlambat, karna tanggal pernikahan Anna & Furqan sudah ditentukan dan semuanya tinggal menunggu waktu.

Pernikahan Anna & Furqan pun terlaksana dengan lancar, meskipun di lain pihak Azzam masih menjadi seorang penyendiri. Setelah usaha bakso cinta Azzam mulai berkembang dan sukses, sang ibu pun mendaulat Azzam untuk segera menikah. Dan petualangan Azzam untuk mencari jodoh pun dimulai.

Continue reading


drop out

Seminggu yang lalu, ketika saya mblayang ke Bandung untuk suatu pertemuan delapan mata (saya, GuruBesar, PerjakaPatahHati, BegundalNekad), saya dapat cerita ngecuprus dari Drop OutManusiaAneh dan RajaFantasiIndonesia tentang sebuah buku yang berjudul “Drop Out”. Dari cerita mereka berdua yang bagai pelawak menggebu-gebu, saya bisa mengambil kesimpulan sementara kalo buku yang lagi diceritain itu termasuk tipe novel fiksi kocak dan konyol. Dan saya pun cukup dibuat penasaran juga untuk segera hunting buku tersebut. Tapi sayang, keinginan untuk segera meminang memiliki buku itu harus tertunda karna memang waktu yang tidak memungkinkan untuk hunting buku di Bandung.

Sampai akhirnya, dua hari kemudian ketika saya sedang menikmati kesendirian berbelanja di carrefour ***untuk kesekian kali terpaksa sendiri, ga nyangka malah nemuin itu buku. Tanpa berpikir panjang, buku berjudul “Drop Out” pun masuk ke dalam keranjang belanja saya.**untuk kesekian kali pula, ga bisa nahan diri untuk beli buku…fiuhhh.

Saya prediksi, buku itu akan tamat hanya dalam hitungan jam saja. Dan ternyata benar adanya. Hanya dalam tempo kurang dari empat jam, buku setebal 198 halaman itu habis sudah.***glekkk…lezat banget. Dan selama hampir empat jam tersebut saya menjadi seperti orang gila yang ketawa ngakak sendirian di kamar.

Continue reading


moga Bunda disayang Allah

Sore ini saya menamatkan lagi satu novel. Novel ini adalah satu di antara sekian puluh novel yang tlah saya baca. Judulnya “Moga Bunda Disayang Allah” karya tere-liye. Sebelumnya saya juga pernah membaca “Hafalan Sholat Delisa” dan “Rembulan Tenggelam di Wajahmu” dari pengarang yang sama. Kali ini juga untuk kesekian kali, saya merelakan air mata jatuh ke bumi.Novel ini diilhami dari salah satu kisah nyata yang paling mengharukan, dan ditulis kembali dari salah satu film terbaik sepanjang masa. Novel ini bercerita tentang anak kecil yang bernama Melati, yang pada umur tiga tahun mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan ia tidak bisa melihat alias buta, tidak bisa mendengar alias tuli, dan tidak bisa berbicara alias bisu. Saya sendiri pun tidak bisa membayangkan kejadian tersebut, karena jarang sekali seseorang yang mempunyai cacat mata dan telinga sekaligus dari kecil. Jika seseorang buta, maka ia masih mempunyai telinga yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia. Jika seseorang tuli (jika cacat dari kecil, biasanya juga bisu), maka ia masih mempunyai mata untuk berhubungan dengan dunia luar. Namun jika cacat buta, tuli, dan bisu bersinergi maka otomatis hampir semua akses untuk berhubungan dengan dunia luar pun akan tertutup. Demikian juga dengan yang menimpa Melati, gadis kecil yang diceritakan dalam novel ini.

Perkembangan dunia anak yang begitu lamban dari seorang melati ini, terjadi tiga tahun lamanya, hingga akhirnya Bunda (ibunya Melati) bertemu dengan Karang (red -mantan anak jalanan yang sangat mencintai anak-anak dengan masa lalu yang begitu menyesakkan karena suatu kejadian dalam hidupnya yang membuatnya merasa bersalah sepanjang sisa hidupnya). Lewat tangan Karang inilah, Allah berkenan menunjukkan segala kuasa-Nya kepada Melati agar manusia bisa mengambil pelajaran dari garis hidup yang mungkin terkesan bagi sebagian manusia bahwa Allah itu tidak adil. Melalui bimbingan Karang inilah, akhirnya Melati bisa makan make sendok, duduk di kursi, dan akhirnya dapat mengenal dunia lewat telapak tangannya.

Mungkin juga, sebagian dari kita pernah menyaksikkan peristiwa yang sejenis di sekitar kita. Dan mungkin juga ketika salah satu di antara kita meliahatnya, timbul sebuah prasangka yang mempertanyakan keadilan Allah. Tapi satu hal yang harus menjadi satu keyakinan kita…..

bahwa Allah adalah Maha Adil, apapun yang terjadi Allah adalah Maha Adil. Mungkin kita saja yang tidak pernah mengerti di mana letak keadilan Allah. Mungkin karena kita terlalu bodoh untuk memahami keadilan tersebut, dan yang pasti bukan karena Allah tidak Adil.

Novel ini sangat bagus bagi siapapun yang menginginkan sebuah pencerahan jiwa yang mungkin kekeringan karena aktivitas dunia yang begitu menyibukkan, hingga terkadang membuat kita terlupa bahwa suatu saat, kita akan kembali pada-Nya.

Thanks buat tere-liye yang Allah memberikan kemampuan lebih untuk memberikan hikmah lewat tulisan. Ditunggu karya-karya selanjutnya..

———————————–
Sehabis Isya’, 17 Juni 2007, at office


kutemukan engkau di setiap Tahajudku

Beberapa hari yang lalu saya baru aja nyelesaiin baca satu novel. Judulnya “Kutemukan Engkau di Setiap Tahajudku” karangan Desi Puspitasari. Dari judulnya sebenernya saya bisa mengira dan sedikit menerka, kalo novel ini pasti mengisahkan kebimbangan seseorang dalam mencari pasangan hidup dan kebingungan ketika dihadapkan pada sebuah pilihan.Ternyata benar perkiraan saya. Novel ini bercerita tentang seorang Airin (gadis berjilbab yang cantik dan jago beladiri) yang sedang bingung menentukan pilihan antara Dewa (temen kuliah yang kaya dan sedang mencari pendamping untuk jadi pengganti ibu buat adiknya) dan Agus (temen masa kecil yang kini jadi setengah preman, gondrong, tukang balapan liar, tapi punya ibu yang baek dan sabar).

Bagian yang paling seru dari novel ini adalah ketika Agus datang ke rumah Airin untuk pertama kali dengan tujuan untuk menyatakan cintanya pada Airin. Ketika Agus hendak mengungkapkan perasaannya, Ayah Airin selalu mengganggu dengan menyela setiap percakapan Agus dan Airin. Tapi akhirnya berhasil juga Agus menyatakan cintanya, yang setelahnya harus ditolak Airin. Karena Airin ga menghendaki pacaran,tapi Airin mencari mencari imam yang dapat membimbing dia di dunia dan akhirat. Trus juga ketika Agus didaulat untuk menjadi imam sholat dhuhur bareng keluarga Airin. Secara Agus udah lupa bacaan dan jumlah rekaan shalat dhuhur.Parah…..Beberapa saat setelah kepergian Agus, Dewa pun datang dengan tujuan yang sama dan mendapatkan jawaban yang sama pula dengan Agus.

Kalo boleh saya bilang, jalan cerita dalam novel ini masih bisa saya tebak ketika saya baca bab awal. Meskipun alur yang digunakan sebenernya cukup bagus, yaitu alur flashback. Cuma kadang di paragraf ketika pindah ke alur masa lalu dari masa kini ataupun sebaliknya ga diberi pembatas, jadi kadang masih bingung, meskipun akhirnya nyambung juga..

Namun dengan segala kekurangan yang ada novel ini adalah salah satu yang menambah kayanya karya sastra di Indonesia. Dan layak untuk dibaca sebagai perenungan di kala kita akan menentukan pilihan.

Tetep maju karya sastra Indonesia!!

———————————
Bandung, 9 Juni 2007, 19.21 WIB


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.