Category Archives: keluarga

finally…

Seminggu yang lalu (12 Juni 2008), ketika itu gerimis sedang mengguyur jakarta saat orang-orang mulai bersiap untuk kembali dari kantor. Saya pun masih ga terlalu peduli dan tetap berkutat pada pekerjaan yang memang baru berakhir jam 9 malam, sambil sesekali melihat keluar jendela memandang indahnya karunia Sang Pencipta yang turun bersama tiap tetes hujan.

Tiba-tiba telepon yang ada di meja berdering,

saya : “dengan Gunawan…” (tentunya dengan nada seramah mungkin…hehe)
suara di seberang : “Gun, bisa ke ruangan saya sebentar?” (seorang laki-laki di ujung telpon meminta saya)

Sejenak saya berpikir, sampai akhirnya tersadar bahwa seseorang yang baru saja meminta saya untuk datang ke ruangannya tersebut adalah Manager saya. Fiuhh…. this is the judgement day, itu yang terlintas dalam pikiran saya. Akhirnya saya pun dengan tergesa segera menuju ke ruangan beliau. Dan sesampainya di sana,

saya : “Sore Pak..” (sambil melemparkan senyum termanis yang saya miliki)
manager : “Silakan duduk..Ga lagi sibuk kan?”
saya : “Ohh, ga koq Pak. Lagi monitoring network aja”

Setelah sejenak berbasa-basi dengan bercanda ramah, akhirnya beliau bicara dengan nada yang serius.

Begini Gun, saya mau menyampaikan perihal hasil tes kemaren. Jadi, dari hasil wawancara direksi minggu lalu dan dari hasil assesment yang ada, maka kamu dinyatakan…..”

Lalu beliau -saya yakin dengan sengaja- menggantungkan kalimatnya yang tadi, dan itu sungguh membuat degup jantung saya sempat berhenti untuk sesaat. Saya pun akhirnya untuk memilih menahan nafas ketika saya melihat beliau hendak melanjutkan kalimat tadi. Akhirnya…

“…kamu dinyatakan LAYAK dan diangkat menjadi PEGAWAI TETAP dengan segala hak dan kewajiban yang ada.”

Speechless… Alhamdulillah…Lega…Plong, semua bercampur jadi satu. Dan semua ga bisa dilukiskan dengan kita. Sungguh, semua yang Allah berikan lebih dari cukup dari apa yang saya minta selama ini. Terima kasih untuk semuanya.

Untuk Ayah, Bunda, keluarga, dan adekku di Bandung yang tak pernah berhenti melantunkan doanya.
Untuk rekan seperjuangan di NOC, atas segala bantuan, ilmu, semangat, dan kekeluargaan yang menemani berlalunya hari. You’re all that I need…

Yang pasti, hal tersebut bukanlah akhir dari perjuangan tapi justru menjadi awal segalanya. Masih banyak hal yang harus dilakukan ke depannya. Semoga Allah memberikan barokah dari setiap waktu yang terlewat.


segenggam rindu untukmu

Saya pergi dari Jakarta. Jenuh dan penat sedang melanda jiwa dan raga saya. Dan menyenangkan sekali menyusuri sepanjang tol Cipularang siang tadi, memandang hijaunya kebuh teh dan deretan pohon yang berdiri bagaikan sebuah pagar. Dua hari ini saya berencana habiskan di bumi Parahyangan, sejenak melepaskan diri dari kepenatan dan rutinitas ibu kota yang membuat waktu serasa berputar lebih cepat.

Malam ini sudah terlalu larut untuk terus terjaga, bahkan saat ini jarum panjang sudah hampir menyentuh angka dua. Entah mengapa, saya masih enggan untuk sejenak meluruskan punggung dan memejamkan mata untuk menjemput mimpi, padahal kepala juga sudah mulai berat dan panas.

Saya putuskan untuk menjelajahi dunia sambil ber-chatting ria dengan teman-teman yang masih terjaga juga. Maksain diri buat jalan-jalan, ehh…..ketemu link ini. Entah kenapa tiba-tiba ada keinginan membaca sampai selesai. Menikmati kata demi kata yang terangkai indah oleh penulis sebagai ungkapan rindu untuk bunda.

Begitu selesai membacanya, pipi ini serasa ditampar keras hingga saya benar-benar tersadar dan tetap terjaga. Hati dan pikiran seketika langsung terbang melintasi ratusan kilometer ke arah timur, melewati beberapa kota hingga tiba di sebuah rumah di pinggiran kota itu. Mengetuk pintunya, dan menjumpai sesosok bidadari.

Arrrghhh, Saya rindu…saya kangen Bunda !!!

Saya rindu senyumnya yang selalu hadir membahagiakan hati. Saya benar-benar rindu belaiannya yang selalu ada untuk menenangkan segala resah. Dan saya juga kangen setiap petuahnya yang selalu terucap menguatkan langkah kaki ini.

Wahai Bunda, sedang apakah dirimu di sana??

Wahai malaikat malam, terbanglah dengan kepakan sayapmu dan sampaikan pada Bunda tentang segenggam rinduku malam ini. Rabbighfirli waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayani shaghiiraa..


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.