Category Archives: jalan lurus

selamat tinggal

selamat tinggal pada sang fajar,
yang membawa indahnya embun pagi di pucuk daun
hingga sang mentari menerbangkan sejuknya menuju siang

selamat tinggal pada sang mentari,
yang hadir seiring awan hitam yang menyelimuti langit
lalu menghilang seiring datangnya hujan yang membawa sang pelangi

selamat tinggal pada sang pelangi,
yang membawa indahnya senja selepas hujan yang mengguyur bumi
meski malam menghapus indah warnanya yang tersusun elok,
bagai sepucuk tangga ke langit tujuh

selamat tinggal pada sang malam,
yang membawa terbang ke alam mimpi bertemu sang bidadari
hingga sang fajar merekah merah di ufuk timur
sebagai pertanda datangnya pagi

————————-

jakarta, 29 juli 2008, 03.15 wib

***pada akhirnya hidup adalah sebuah putaran waktu yang membawa kita menyongsong satu episode hidup yang baru dengan meninggalkan satu episode di belakang. beruntunglah bagi yang bisa belajar dari setiap episode hidup yang terlewat, karna semuanya tak pernah terjadi karna kebetulan, melainkan atas kehendak-Nya. (Catatan di Penghujung Malam)


lelayu

Kemaren (Jumat, 11 Januari 2007) siang, saya mendapat SMS dari sahabat dekat saya, Ardian Widhiyanto, yang ngabarin kalo Eyangnya yang tinggal di Kopo meninggal dunia sekitar jam 9.30 WIB karna sakit. Inalillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah dan diberikan tempat yang baik, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Sehari sebelumnya, Ardian ama Istrinya (red -Fikie) memang sempet nengokin, dan saat itu kondisi kesehatannya sudah menurun drastis. Dan ternyata Allah berkehendak untuk menutup usia beliau sehari sesudah ditengokin oleh cucunya.

Kematian….akan datang di waktu yang tidak bisa diprediksi oleh manusia. Semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk mempersiapkan ‘bekal’ untuk bertemu Sang Khaliq.

Sudah siapkah kita bertemu dengan KEMATIAN ??

 

..:: Bandung, ba’da maghrib ::..


dua puluh tiga tahun

hari ini
bersama desir angin yang menerpa wajah
di pernghujung pagi ini yang berhias tetes hujan
teruntai syukur yang tiada terhenti
padamu ya Rabb
atas setiap nikmat di hidupku

meski sering diri ini berbuat dosa,
yang terulang dan senantiasa terulang
meski terkadang lalai,
tiada kusebut namaMu di dalam setiap langkah
dan desah nafas yang terhembus
dan detak jantung yang belum berhenti

dua puluh tiga tahun ini,
tak kan ada sia-sia
satu tahun yang Engkau tambah,
adalah satu tahun semakin dekatku
dengan kematian

ampuni dosaku yang sepenuh bumi
berkahilah umurku meski hanya satu hari
kuatkan imanku sejauh apapun melangkah
luaskanlah ilmu dan rezekiku
ya Rabb..

 

Jatiluhur, 23 november 2007, selepas ashar

***ditulis ketika hari ini, Allah menambahkan satu tahun usiaku beranjak ke angka dua puluh tiga. Usia yang tak lagi muda jika dibandingkan dengan rata-rata hidup di dunia. Namun terlampau kecil dan sebentar jika ia dibandingkan dengan waktu di akhirat kelak. Astaghfirullah….

***Alhamdulillah, taun ini terlewatkan pergantian usiaku dengan sendiri. agar dapat direnungi segala hal yang berlalu, yang semuanya menjadi bagian masa lalu. tak kan terlupa, seberapa pahitpun ia. karna suatu saat pasti akan ada masa, untuk kembali mengambil hikmah dan pelajaran dari semua yang tlah berlalu.

***entah kapan dan dimana jantung ini akan berhenti berdetak, tapi kematian itu tak kan perndah datang terlambat atau terlalu cepat. ia akan datang tanpa permisi dan tanpa kompromi. dan kini, satu tahun tlah terlewat, semakin dekatlah dengan kematian itu. sementara..diri ini terlampau banyak berdosa. sering lupa mengingatMu. ampuni ya Allah…


persinggahan kerinduan

***bersama melewati dingin malam, menerobos kabut tebal yang diiringi gerimis-gerimis kecil. bersama dalam hangatnya canda tawa, kala itu, sepanjang Dayeuh Kolot – pemandian air panas Cimanggu Ciwidey

Sepenggal peristiwa itu kembali memenuhi ruang ingatanku, tanpa menyisakan sedikit saja kesempatan untuk menghindar. Dan tanpa permisi, jiwa sentimentil pun menguasai seluruh kenangan yang ada. Pemandian air panas Cimanggu, menjadi sebuah kebersamaan terakhir yang entah kapan dapat terulang lagi. Foto-foto itu menjadi saksi betapa kita pernah mengukir sebuah kenangan manis yang tak kan pernah tergantikan. Bahwa kita pernah bersama, berjalan beriring, dan melewati semuanya hingga akhirnya waktu jua yang memisahkan.

istana perjuangan

Tahukah sobat, di sini sepi, sunyi, tak ada canda tawa dan hangatnya senyum yang menghiasi hari. Aku sudah terlalu lelah melewati semuanya sendiri. Tapi aku tidak ingin menyerah. Karna aku yakin, di suatu saat kita akan berkumpul lagi, dan engkau pasti tidak ingin melihatku hancur dan kalah, seperti harapku yang tak ingin melihat engkau lemah. Hanya kenangan-kenangan itulah yang senantiasa menjadi pengikat kita, meski kita tak lagi bersama.

Kukira dulu kita akan terus bersama menggapai cita, mengejar mimpi yang setinggi bintang di angkasa. Kusangka dulu engkau akan selalu ada disampingku, berjalan beriringan. Memapahku saat langkah ini mulai terasa berat. Memberikan senyum terhangatmu ketika hati mulai gundah.

Tapi ternyata tidak…

Tak selamanya kita harus bersama dan berjalan beriringan. Karna kini, aku harus sendiri, menggapai semua asa yang masih tersisa dan janji yang masih terpatri. Hingga nanti di suatu saat, kita akan bertemu dan bercerita bahwa kita tlah berhasil melewati semua.

Air mata ini jatuh lagi, dan aku tlah sampai di sebuah persinggahan yang bernama k.e.r.i.n.d.u.a.n.

::jakarta, jam 3 dini hari, saat rasa rindu yang tak lagi dapat terbendung::
sebuah persembahan cinta untuk kebersamaan di Istana Perjuangan Bandung, love you all guys…


lelayu

Innalillahi wa inna ‘ilaihi raji’un

Telah berpulang ke Rahmatullah, ibunda dari sahabat Awalia Rahmawati (Awe) – TI 2002 STT Telkom di Semarang sekitar jam 12 siang.
Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Allah, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

 

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu

doa untuk jenazah

Berita duka ini barusan saya dapet dari SMS yang dikirim Fajri Rahmanda jam 18.57 tadi. Tadi siang sih beliau sempet nelpon saya, nanyain nomer temen saya yang ada di Solo. Cuma saya ga terlalu ngeh aja, cuma bilang “iyo We…nduwe, mengko tak kirim SMS wae!!” (artiin sendiri…).
Kaget…tapi akhirnya bisa jadi sebuah pengingat juga bagi saya, bahwa KEMATIAN itu bisa datang kapan aja, tanpa permisi. Kematian tak kan bisa diundur atopun dimajukan meski hanya satu detik.

Astaghfirullah…..ampuni hamba-Mu ini ya Rabb.

::Jakarta-kantor-abis isya’::


over 22 years old

Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
(Q.S Al ‘Ashr)

Itulah waktu, yang ibarat mata pedang, jika kita tidak dapat menggunakan dengan baik, maka bersiaplah celaka karenanya. Pun begitu dengan waktu yang telah terlewat. Ia tak mungkin kembali lagi, tak mungkin dapat diraih lagi.

Merenungi waktu, membuatku melayang tinggi melintasi berjuta dimensi hidup yang pernah aku lalui. Di sanalah terukir perjalanan panjang hidup yang entah kapan akan berakhir.
Tanpa sadar, beberapa hari yang lalu tepatnya 23 November 2006, Allah menggenapkan usiaku untuk yang ke-22. Ngeri…. karena itu berarti jatah usiaku di dunia tlah berkurang satu tahun lagi. Dan artinya semakin dekatlah aku dengan suatu masa yang akan menjadi putuskan segala kenikmatan yang ada di dunia, yaitu MAUT.
Sementara diri ini belum siap jika dihadapkan pada hari itu.
Sementara amalan ini belumlah cukup untuk menebus sekian banyak dosa yang kuperbuat.

Wahai Allah,
panjangkanlah umurku jika dengannya hamba dapat berbuat amalan kebaikan lebih banyak lagi.
namun sebaliknya,
pendekkanlah umurku jika dengannya hamba dapat mengurangi amalan burukku

22 tahun bukanlah umur yang muda lagi. Semakin banyak tanggung jawab yang menanti di depan.

Tanggung jawab sebagai seorang hamba kepada Sang Khaliq
Tanggung jawab sebagai seorang anak kepada orang tua
Tanggung jawab sebagai seorang lelaki sejati yang suatu saat akan menjadi suami sekaligus seorang ayah
dan masih banyak tanggung jawab yang lainnya.
Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan dan keistiqomahan untuk menjalankan semua amanah dan tanggung jawab itu.

Special thanks to :

  • Allah SWT & Muhammad SAW – “Sang Pembawa Risalah”

  • My Beloved Parents & Sista

  • Semua teman-teman & sahabatku yang masih mau menyisakan sedikit ruang dalam ingatan dan menuliskan di sana tanggal 23 November 1984 sebagai tanggal lahir seorang “Gunawan Prasetyo”.

Makasih atas semua ucapan dan doanya baik itu lewat SMS (Silvi, Risma, Snel, Adheet, Ajijah, Ade HP, Cahyo, Cicky), testimonial di FS (Ihsan, Rico, Abas, Dana, Oppie), message di FS (Yunita, Risma), chatting di YM (Anggi, Jenggot, Didin), telpon (mas Budi, my Sista), atopun face to face (Intan Yusantina, Ramon, Desiyana, Satrio, Primbon, Tepe & anak-anak HMIF) dan masih banyak lagi nama-nama yang ga bisa disebutkan di sini.

Makasih tlah membawaku sampai di titik persinggahan usiaku yang ke-22. Sungguh kehadiran teman-teman & sahabat membuat hidupku terasa lebih berarti. Maaf banget kalo ga bisa nraktir semuanya…

———————————
Bandung, 29 November 2006
01:37 A.M


ayah & bunda

Malam ini sudah terlalu larut, tapi mata belum ingin terpejam. Selain badan juga belum terlalu capek, di sini masih ada beberapa kerjaan yang mengharuskan aku untuk melanjutkan aktivitas untuk mengarungi malam ini. Sepi banget. Semua temen-temen di lab udah terlelap dalam tidurnya. Tinggal aku sendiri ditemani komputer tersayangku dan segelas kopi hangat yang baru saja selesai aku seduh.
Dari windows media playerku perlahan terlantun lagu Bunda yang dibawain ama Naff. Liriknya kira-kira gini :

Naff – Bunda
tak pernah letih kau menuang kasih
tak pernah lelah kau menanam budi
menuntun setiap langkahku

tiada letih doamu mengalir
tetap memberi meski kau menangis
tuk jaga setiap khilafku

janganlah terhenti semua yang kau beri
tetaplah menjadi pelita hatiku
janganlah terhenti doamu mengalir
menaungi bijak langkah kakiku

Perlahan, pikiranku terbang melintasi sekian tempat dan menjelajahi ratusan kilometer menuju sebuah rumah di sebuah kota nun jauh di sana, di Gemolong. Terbayang seraut wajah dengan senyum manis dan wajah ayunya. Ya…..itulah bunda-ku. Entah kenapa tiba-tiba aku kangen beliau. Ingin sekali rasanya saat ini aku datang memeluknya, mencium pipi dan tangannya, dan berucap…..
“Aku Sayang Bunda!!!”

Berikutnya, terlintas wajah ayahku yang meski sudah hampir menginjak usia 48 tahun, namun masih senantiasa kulihat ketegaran, kekuatan, dan keikhlasan di wajahnya dalam menghadapi hidup. Bagaimana kabarmu pagi ini ayah??? Aku rindu… Aku kangen…. akan semua petuah bijakmu tentang hidup yang seringkali engkau berikan pada anakmu ini.

Wahai ayah dan bunda…
Seluruh perjuangan hidupmu adalah pelajaran berharga bagiku yang senantiasa ingin aku abadikan dalam bingkai tauladan dalam hatiku. Setiap tetes keringat, untaian doa, dan derai air mata itu takkan pernah lepas dari ingatanku.

Wahai ayah dan bunda….
Maafkan aku, jika selama ini belum bisa memberikan yang terbaik untuk engkau.
Maafkan aku, jika ucap dan tingkah lakuku terkadang menyakiti dan mengecewakanmu.
Maafkan aku, jika terkadang doa tak terlantun untukmu.

aku sayang, aku rindu kepada engkau wahai ayah dan bunda…..

Rabbighfirli wa liwalidaya warhamhuma kamaa rabbayani saghiraa..
Ya Allah, ampuni mereka dan jagalah meraka dari api neraka-MU.

amien.

———————————————–
Dayeuh Kolot, 8 November 2006, 02:12:31 WIB
–ketika sendiri hadir di tengah aktivitas malamku–


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.