Category Archives: celoteh

ritual minum kopi

Sejak pesanan Vietnam Coffee Drip dan 1 bungkus ground coffee ber-genre DFB  (Dinner Fiesta Blend) dari Sarang Kopi datang, saya jadi punya ritual khusus ketika minum kopi ketika sore atau malam hari. Saya sangat menikmati ritual mulai dari membuka bungkusan berisi bubuk kopi hingga meminum tetes terakhir kopi dari cangkir. Sepertinya, tak kan lengkap suatu hari dalam hidup saya tanpa meneguk seduhan kopi. Dari awalnya meminum kopi hanya untuk menghilangkan rasa kantuk, dan kini meminum kopi untuk sebuah kenikmatan. Banyak orang bilang, saya sudah kecanduan. Tapi bagi saya, kopi adalah sebuah selera hidup., meskipun saya tidak pernah menyertakan racun nikotin (red -merokok) ke dalam ritual minum kopi saya.

Vietnam Drip dan DFB

Vietnam Drip dan DFB

Continue reading


kembali menulis

Aaarrrrgghhh…. Entah kenapa, beberapa bulan belakangan ini saya merasa ‘malas’ untuk nulis lagi. Terakhir saya nulis di blog yaitu 5 Januari 2009, it’s almost five months ago.. Memang, sejak ‘racun’ fesbuk merajalela di dunia, merambah ke temen-temen kuliah lalu temen-temen kantor, saat itu pula saya merasakan gairah menulis mulai menurun drastis. Padahal koneksi internet sudah lancar jaya baik di rumah maupun di kantor. Ide-ide tulisan juga banyak yang ingin disampaikan, tapi selalu mentok atau lebih tepatnya tergoda hal lain ketika konek internet.

Tapi, mulai saat ini saya pengin menulis lagi….seperti dulu…

Semoga bisa… 


antri tiket lebaran

Hari minggu kemaren akhirnya bisa merasakan juga mengantri tiket mudik lebaran seperti yang biasa dilakukan si tukang calo tiket tiap hari. Pasalnya, si calo tiket yang harusnya bertugas mengantri tiket sedang berlibur ke Bandung untuk seorang cowok cewek pujaan hatinya. Jadilah saya terpaksa ngantri sendiri merasakan beratnya perjuangan seorang A-nu, dan membatalkan rencana tarawih pertama di Bandung.

Pagi-pagi sekali sehabis sholat shubuh, saya berangkat dari Cilandak Barat dengan menumpang Kopaja P 20 jurusan Lebak Bulus – Ps Senen. Beruntung sekali hari itu adalah hari minggu, sehingga perjalanan melewati kawasan Mampang yang terkenal macet pun bisa lancar jaya tak ada hambatan yang berarti. Sesampainya di stasiun Gambir ternyata sudah begitu banyak orang yang senasib dengan saya. Loket antrian tiket sudah penuh sesak dengan manusia, bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah datang sejak jam 3 pagi. Kapan ya bisa dapat tiket tanpa harus terjadi antrian yang seperti itu ??

Begitu datang langsung dikasih selembar form pemesanan yang ternyata juga ada nomer urut antrian dan loketnya, meski sebenernya saya ga yakin bakal bisa berjalan tertib sesuai nomer urut.

form pesan tiket

form pesan tiket

Selain tidak adanya indikator nomer urut di depan loket, sepertinya sistem antrean ini belum tersosialisakan dan lebih terkesan dadakan. Alangkah lebih baik pula jika calon pembeli tiket disediakan tempat duduk khusus agar terkesan lebih rapi. Bukan suasana ngantre seperti ini :

sebelum loket buka

sebelum loket buka

Foto di atas adalah suasana sebelum loket dibuka jam 7 pagi. Dan berikut suasana setelah loket resmi dibuka meski sudah ada form antrean :

setelah loket buka

setelah loket buka

Akhirnya setelah beberapa saat menunggu dan bersabar, Alhamdulillah dapet juga satu tiket Argo Dwipangga jurusan Jakarta – Solo untuk keberangkatan tanggal 30 September 2008 jam 8 pagi seharga 400 ribu rupiah. Senang hati ini, akhirnya perjuangan mengantri tiket membuahkan hasil juga.

tiket kereta

tiket kereta

Nah, sekarang tinggal memastikan untuk tiket balik ke Jakarta tanggal 4 Oktober 2008. Untuk urusan ini saya sudah menyerahkan segala urusan antri-mengantri kepada junior saya yang kurus ituh™.

Adakah rekan blogger yang mempunyai tujuan dan kereta yang sama pula hari itu ?


terjaga tengah malam bersama sahabat

Location : my beloved room
Backsound : Indra Lesmana ( Sedalam Cintamu, Biarkan Aku Kembali, Cerita Lalu )
Mood : not too happy but not sad
Beverage : a cup of coffee

Gara-gara ketiduran selepas maghrib tadi, akhirnya tengah malam kebangun dan sampai jam segini belum bisa tidur lagi. Padahal pagi ini berencana mengantri tiket kereta di Gambir untuk kepulangan ke Solo tanggal 30 September nanti. Semoga saja masih kebagian tiketnya.

Dengan ditemani secangkir kopi, akhirnya membangunkan seorang sahabat yang berada nun jauh di sana untuk menemani malam ini berkedok menyambung tali silaturahim. Beruntung dia-nya masuh mau menerima telpon yang penting ga-penting tadi. Akhirnya saya pun ngobrol ngalor-ngidul berkepanjangan, ngobrolin banyak hal mulai dari kondisi ‘markas’, juga kabar ‘hati dan percintaan’ yang tak kunjung menunjukkan titik baik, hingga kerinduan saya pada suasana angkringan tempat nongkrong menghabiskan malam dan juga rencana-rencana besar dalam hidup nanti.

Bahaga sekali rasanya masih punya banyak sahabat tempat berbagi dalam suka dan duka, saling menguatkan dan menopang untuk terus tegak berdiri agar tak kalah menghadapai dunia. Sungguh senang memiliki sebuah ketulusan tanpa pamrih untuk saling membantu tak peduli apapun keadaannya, meski jarak dan waktu memisahkan.

Persahabatan ini sungguh tak bisa terukur keberadaan dan kekuatannya. Karna ia terjalin oleh sebuah ketulusan yang hadir mengikat hati, yang mengalir bersama darah dalam urat nadi, dan tak kan pernah berhenti mengaliri seluruh tubuh hingga sang jantung berhenti menjalankan tugasnya untuk berdetak.

Persahabatan ini memang indah, seindah pelangi yang hadir mewarnai dunia. Juga sesejuk embun yang hadir menemani datangnya pagi.

Ending Song : Padi – Disini Tanpamu

Continue reading


on progress

Udah sebulan baca buku ini, tapi ga selesai-selesai :

Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah

Untukmu Yang Akan Menikah & Telah Menikah

Padahal isinya bagus dan bermanfaat banget. Banyak ilmu yang bisa didapat di dalamnya.

Atau mungkin harus di-KONKRIT-in dulu kali ya?


selamat tinggal

selamat tinggal pada sang fajar,
yang membawa indahnya embun pagi di pucuk daun
hingga sang mentari menerbangkan sejuknya menuju siang

selamat tinggal pada sang mentari,
yang hadir seiring awan hitam yang menyelimuti langit
lalu menghilang seiring datangnya hujan yang membawa sang pelangi

selamat tinggal pada sang pelangi,
yang membawa indahnya senja selepas hujan yang mengguyur bumi
meski malam menghapus indah warnanya yang tersusun elok,
bagai sepucuk tangga ke langit tujuh

selamat tinggal pada sang malam,
yang membawa terbang ke alam mimpi bertemu sang bidadari
hingga sang fajar merekah merah di ufuk timur
sebagai pertanda datangnya pagi

————————-

jakarta, 29 juli 2008, 03.15 wib

***pada akhirnya hidup adalah sebuah putaran waktu yang membawa kita menyongsong satu episode hidup yang baru dengan meninggalkan satu episode di belakang. beruntunglah bagi yang bisa belajar dari setiap episode hidup yang terlewat, karna semuanya tak pernah terjadi karna kebetulan, melainkan atas kehendak-Nya. (Catatan di Penghujung Malam)


tragedi jalan sendiri

Seminggu yang lalu, iseng saya jalan-jalan ke Ambassador sekaligus melepaskan penat setelah beberapa hari terjebak dalam kerjaan yang menyita waktu. Niat awalnya sih cuma mau beli kibot protektor buat laptop kesayangan. Akan tetapi niat tersebut tidak diteruskan dengan langkah nyata, bahkan pada akhirnya saya terbuai dan terlena untuk membeli barang lain.

Kejadiannya berawal ketika saya masuk di sebuah toko aksesoris komputer yang lumayan lengkap. Iseng ngeliat kesana kemari, saya tidak menemukan kibot protektor yang dicari. Awalnya saya hanya mengira kalau disimpan di lemari khusus yang tidak bisa saya lihat. Lalu saya pun bertanya kepada si mbak penjaga toko, dan ternyata memang barang yang saya cari lagi kosong stok-nya. Rada kecewa karna toko tersebut merupakan toko yang lumayan lengkap dan besar. Kalau di toko yang segedhe itu saja tidak ada, apalagi di toko yang lain. Saya pun meninggalkan toko tersebut. Ketika baru nyampe di dekat pintu keluar, eitttt… there’s something interesting. Yup, saya melihat Sennheiser MX 160 yang sepertinya cocok kalau disandingkan dengan Ipod Nano kesayangan. Sejenak perhatian saya tertuju ke Sennheiser tersebut lalu berlanjut dengan melihat dan membayangkan jika bersanding dengan Ipod.

Dan selanjutnya saya pun lupa kalo harus beli kibot protektor, lalu terbius tak tersadar dengan membawa Sennheiser MX 160 ke kasir untuk membayarnya. Baru ketika di luar toko saya tersadarkan diri kalau baru saja mengeluarkan 2 lembar uang 50.000. Fiuhhh, lagi-lagi lupa diri kalo jalan sendirian!!!

Berikut skrinsyut-nya :

Sennheiser mx 160

Sennheiser mx 160

Dan perjalanan hari itu pun terus berlanjut ke deretan toko henpon yang banyak terdapat di sana. Akhirnya setan pun sukses menggoda bujangan kesepian yang lagi jalan-jalan sendiri seperti saya. Dalam waktu kurang dari 30 menit berikutnya, saya sudah melakukan transaksi tunai sebesar Satu Juta Sembilan Ratus Tujuh Puluh Lima Ribu Rupiah untuk membayar Sony Ericsson K660i yang memang sudah target incaran saya. Berikut skrinsyut-nya :

Sony Ericsson K660i

Sony Ericsson K660i

SE K660i-Box

SE K660i-Box

Terbukti sudah !! jadi bujang terlalu lama itu memang merugikan. Selain merasakan kesepian yang amat sangat, di satu sisi akan banyak uang yang terbuang untuk hal-hal yang kurang begitu penting. Tapi enaknya, jika pengin beli suatu barang ga perlu banyak pertimbangan.

Intinya jika anda seorang gadget-ers yang gampang tergoda seperti saya, sebaiknya jangan pergi ke area mall dan tempat-tempat yang menjual barang elektronik dalam keadaan sendiri. Akan tetapi keadaan juga tidak lebih baik jika anda tidak pergi sendiri, tapi bersama sahabat yang ternyata juga punya hobi yang sama. Kalau sudah begitu keadaan bisa bertambah buruk.

Berapapun uang yang sudah saya keluarkan hari itu, ga jadi masalah. Yang penting hati lega. Asal ga keseringan aja.


finally…

Seminggu yang lalu (12 Juni 2008), ketika itu gerimis sedang mengguyur jakarta saat orang-orang mulai bersiap untuk kembali dari kantor. Saya pun masih ga terlalu peduli dan tetap berkutat pada pekerjaan yang memang baru berakhir jam 9 malam, sambil sesekali melihat keluar jendela memandang indahnya karunia Sang Pencipta yang turun bersama tiap tetes hujan.

Tiba-tiba telepon yang ada di meja berdering,

saya : “dengan Gunawan…” (tentunya dengan nada seramah mungkin…hehe)
suara di seberang : “Gun, bisa ke ruangan saya sebentar?” (seorang laki-laki di ujung telpon meminta saya)

Sejenak saya berpikir, sampai akhirnya tersadar bahwa seseorang yang baru saja meminta saya untuk datang ke ruangannya tersebut adalah Manager saya. Fiuhh…. this is the judgement day, itu yang terlintas dalam pikiran saya. Akhirnya saya pun dengan tergesa segera menuju ke ruangan beliau. Dan sesampainya di sana,

saya : “Sore Pak..” (sambil melemparkan senyum termanis yang saya miliki)
manager : “Silakan duduk..Ga lagi sibuk kan?”
saya : “Ohh, ga koq Pak. Lagi monitoring network aja”

Setelah sejenak berbasa-basi dengan bercanda ramah, akhirnya beliau bicara dengan nada yang serius.

Begini Gun, saya mau menyampaikan perihal hasil tes kemaren. Jadi, dari hasil wawancara direksi minggu lalu dan dari hasil assesment yang ada, maka kamu dinyatakan…..”

Lalu beliau -saya yakin dengan sengaja- menggantungkan kalimatnya yang tadi, dan itu sungguh membuat degup jantung saya sempat berhenti untuk sesaat. Saya pun akhirnya untuk memilih menahan nafas ketika saya melihat beliau hendak melanjutkan kalimat tadi. Akhirnya…

“…kamu dinyatakan LAYAK dan diangkat menjadi PEGAWAI TETAP dengan segala hak dan kewajiban yang ada.”

Speechless… Alhamdulillah…Lega…Plong, semua bercampur jadi satu. Dan semua ga bisa dilukiskan dengan kita. Sungguh, semua yang Allah berikan lebih dari cukup dari apa yang saya minta selama ini. Terima kasih untuk semuanya.

Untuk Ayah, Bunda, keluarga, dan adekku di Bandung yang tak pernah berhenti melantunkan doanya.
Untuk rekan seperjuangan di NOC, atas segala bantuan, ilmu, semangat, dan kekeluargaan yang menemani berlalunya hari. You’re all that I need…

Yang pasti, hal tersebut bukanlah akhir dari perjuangan tapi justru menjadi awal segalanya. Masih banyak hal yang harus dilakukan ke depannya. Semoga Allah memberikan barokah dari setiap waktu yang terlewat.


mobile blogging

Rencana tidur awal pun gagal sudah.Padahal sudah bela-belain pulang dari kantor jam 9 malam. Tapi ternyata, komputer yang ada di kamar pun lebih menggoda untuk disentuh daripada guling dan bantal yang akan membawa ke alam mimpi.

Agenda rutin yaitu sinkronisasi PDA dengan outlook yang ada di komputer. Setidaknya agenda yang tlah terlewat maupun yang masih dalam rencana bisa terdokumentasi. Dan yang paling penting adalah backup phonebook yang ada di PDA, setidaknya jadi persiapan kalau sewaktu-waktu crash dan harus restore ke settingan awal. But I hope not. Setelah urusan backup selesai, lanjut bermain dengan Ipod kesayangan. Delete beberapa lagu yang memang sudah jarang didengarkan lagi, kemudian add beberapa lagu yang saya kumpulkan dalam satu album yang saya beri nama “Wedding Song”.

Selesai berurusan dengan Ipod bukan langsung tidur, tapi malah buka folder film yang ada di hardisk. Ternyata memang masih ada beberapa yang belum sempet saya tonton. Akhirnya saya putuskan untuk nonton “A Beautiful Mind”, sebuah film bagus yang tentang seorang ahli matematika yang harus berjuang mati-matian untuk hidup normal karena penyakit Schizophrenia. Namun pada akhirnya, berkat ketekunan dan dukungan yang luar biasa dari istri ia berhasil melewati semua masa-masa yang berat itu dan berhasil mendapat nobel pada tahun 1994 atas penemuannya. Ehmmm, semoga nanti masih bisa membuat tulisan khusus tentang film tersebut.

Dan sekarang, hampir jam 3 pagi..masih ada beberapa waktu ke depan untuk sejenak memejamkan mata. Masih sempet nulis di blog dengan Dopod 838pro dan kartu IM3 ditemani roti serta sebotol frestea.

Selamat pagi semua…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.