Monthly Archives: January 2009

liburan panjang dan wisata kuliner

Salah satu hal yang membuat saya senang bukan kepayang ketika pulang kampung ke Solo adalah makanannya. Bahkan diet ketat selama 1 bulan pun bisa gagal total oleh wisata kuliner di Solo selama 6 hari. Selain dengan harga yang relatif murah, masakan yang ada pun lebih banyak macamnya. Dan percayalah, 6 hari saja tidak akan cukup untuk memuaskan dahaga akan masakan rumah (red -Solo).

Saat liburan kemarin yang hanya 6 hari, itupun masih dipotong dengan acara ke berbagai kondangan, saya menyempatkan diri untuk menyicipi kembali pusaka warisan nusantara dalam bentuk masakan yang top markotop bin enak tenan.

  • Warung Sate – Gule – Tongseng ‘Mbok Galak’
    Warung ‘Mbok Galak’ menyediakan segala masakan yang berkomposisikan daging kambing. Jadi bagi anda yang mempunyai kolestrol yang sudah tinggi sebaiknya jangan mencoba, atau dada akan mengumandangkan genderang perang sepulang dari sana. Tapi bagi anda yang tidak punya pantangan dengan daging kambing, warung ini WAJIB untuk dicoba karna rasanya yang tak ada tandingannya di belahan bumi manapun. Saya sendiri paling suka tongseng-nya. Ramuan rempah dan bumbu yang pas membuat rasanya begitu sedap bahkan hingga tetes kuah yang terakhir. Daging kambing muda yang dimasak bersama bumbu dengan komposisi yang tepat menggunakan kompor yang berbahan bakar arang menjadikan dagingnya masak lebih merata dan bumbu dapat meresap ke dalam daging dengan sempurna. Proses memasaknya pun dapat anda saksikan sendiri tepat di pintu masuk warung.
    Warung yang terletak di Jl Mangunsarkoro No.122 Sumber ini memang sudah melegenda. Hingga konon, katanya keluarga mantan Presiden Soeharto ketika berada di Solo selalu memesan sate kambing ke warung ini. Bagi anda yang kebingungan mencari alamat warung ini, tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang sopir becak atau pak polisi, niscaya anda tidak akan tersesat.
    Selain tongseng, sate kambingnya pun sangat enak. Empuk dan tidak bau ‘prengus’. Untuk masalah harga, sangatlah sebanding dengan sensasi kelezatan yang didapat setelah pulang dari sana. Saat itu, saya berdua dengan teman memesan seporsi tongseng dan 10 tusuk sate kambing beserta minumnya tidak sampai menghabiskan 50 ribu rupiah. Murah bukan?

    warung mbok galak

    warung mbok galak

    Continue reading


liburan panjang dan road show undangan nikah

Liburan yang cukup lama di akhir taun 2008 kemarin memang penuh dengan agenda dan kejutan. Dari hasil atur-atur jadwal kerja di kantor dan cuti, alhamdulillah bisa dapat total 8 hari libur dari tanggal 23 – 30 Desember 2008. Dan agenda pun sebenernya sudah disusun dari sebulan sebelumnya yang melibatkan perjalanan tiga kota, yaitu Jakarta, Bandung, dan Solo.

Salah satu acara liburan kemaren adalah roadshow menghadiri undangan pernikahan sahabat tentunya. Sepertinya saat liburan panjang seperti kemaren memang banyak dimanfaatkan bagi sebagian orang untuk melangsungkan pernikahannya.

Perjalanan pertama dimulai dari kota Bandung pada 23 Desember 2008. Pada hari tersebut salah seorang temen sekelas pada waktu kuliah, Ade Hendraputra mempersuting seorang gadis Sunda sebagai pendamping hidupnya. Saya sudah berjanji untuk datang, karna sebulan sebelumnya pun saya sudah dihubungi oleh Ade yang saat itu masih di Vietnam untuk jadi tukang jepret dan saya menyanggupinya. Partner saya saat itu adalah Didin yang juga menjadi tandem saya di pernikahan Ihsan dulu. Karna bukan pertama kali kita kerja bareng, akhirnya jadi lebih enak buat ngatur posisi agar saling melengkapi. :)

Pernikahannya sendiri diadakan dalam adat Sunda, yang diawali dengan proses serah terima dari pihak keluarga pengantin pria kepada pihak keluarga pengantin wanita. Prosesi berikutnya adalah acara akad nikah yang diselenggarakan di masjid terdekat. Suasana pagi itu memang begitu syahdu. Ketika prosesi “Saya nikahkan….” dan “Saya terima nikahnya…” dilaksanakan, saat itu pula air hujan yang penuh dengan barokah tumpah dari langit. Semoga menjadi barokah tersendiri bagi pengantin dan yang datang ke acara tersebut. Setelah prosesi akad nikah selesai, resmilah mereka menjadi sepasang suami-istri dan telah lulus dari Universitas Bujang Indonesia. Kemudian pengantin diarak menuju pelaminan, yang disana telah menunggu prosesi sungkeman kepada kedua orang tua yang dilanjutkan dengan sebuah prosesi yang dinamakan “Saweran”. Prosesi Saweran sendiri bisa dibilang cukup “rusuh” karna melibatkan pengantin, keluarga, dan juga para tamu undangan. Pada prosesi-prosesi tersebut banyak moment yang bisa diabadikan dan tidak monoton seperti foto-foto di pelaminan. Sehingga foto-foto yang dihasilkan pun lebih ekspresif dan unik.

Selepas prosesi Saweran tersebut, saya mengundurkan diri dari profesi juru jepret dan berganti sebagai tamu undangan, agar lebih bebas dalam menikmati hidangan yang disediakan. :D

Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.