Monthly Archives: September 2008

bukber dan deklarasi Veteran HMIF

bukber-veteran HMIF

bukber-veteran HMIF

Sabtu kemaren, 20 September 2008 bertempat di Republik Kuliner Jalan Merdeka Bandung, berpuluh mahasiswa dan mantan mahasiswa yang tergabung dalam Veteran HMIF berkumpul untuk mengadakan buka bersama. Veteran HMIF sendiri adalah paguyuban yang didirikan untuk mewadahi siapa saja yang pernah menjabat dan mendapat amanah sebagai Pengurus HMIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) STT Telkom a.k.a IT Telkom dari kepengurusan tahun pertama hingga kepengurusan yang sedang berjalan sekarang. Saya sendiri pernah memegang amanah di HMIF pada masa kepengurusan tahun 2004-2005 dan 2005-2006.

Ide mengadakan buka bersama ini sebenernya bermula dari obrolan singkat di forum Veteran HMIF yang numpang di forum students. Bermula ketika dua orang duet kurus yang memancing adanya gathering untuk ajang pencarian jodoh buka bersama Veteran HMIF semua angkatan. Dalam waktu yang relatif singkat ajakan gathering tersebut mendapat sambutan yang cukup antusias dari rekan-rekan Veteran HMIF. Terbukti dari aksi saling balas membalas di forum. Bahkan rencana buka bersama yang semula direncanakan tanggal 13 September 2008 pun harus diubah ke tanggal 20 September 2008 karna saya ada banyak Veteran yang tidak bisa ikut jika dilaksanakan tanggal 13 September 2008. Dengan mempertimbangkan usulan dari berbagai pihak akhirnya buka bersama diundur seminggu dari jadwal semula, dengan konsekuensi acara harus dipersiapkan dengan lebih matang dan terorganisir. Dengan adanya tambahan tenggang waktu ini, akhirnya panitia bisa memanfaatkan untuk mencari donasi ke beberapa Veteran yang sudah mapan (kerja -red) agar pada hari H peserta buka bersama tidak dikenakan biaya.

Alhamdulillah, saya sebagai senior cukup memberikan komando kepada duet kurus™ untuk mempersiapkan segalanya, mulai dari tempat, acara, bahkan pencarian donasi. Sehari sebelum pelaksanaan terbentuklah panitia dadakan hasil penunjukan sepihak oleh Senior™ kepada Junior™ yang list selengkapnya bisa dilihat di sini pada saat conference di YM. Total donasi yang berhasil dikumpulkan sekitar 1,5 juta rupiah, yang jika dikalkulasi akan bisa membebaskan beberapa orang dari tagihan billing pada saat buka bersama.

Bahagia sekali rasanya, acara yang terbilang mendadak ini ternyata mendapat antusiasme yang cukup tinggi dari rekan-rekan Veteran HMIF. Pada hari-H sekitar 80% dari yang sudah konfirm bisa datang ke acara buka bersama. Dan di sana pun berkumpul Veteran HMIF dari berbagai angkatan, mulai dari angkatan 1999 sampai angkatan 2007 yang sangat bermanfaat sekali untuk menjalin silaturahim demi kepentingan bersama.

Continue reading


eos 450d:alhamdulillah kebeli juga

Alhamdulillah, setelah beberapa lama mengumpulkan pundi-pundi rupiah dari hasil keringat sendiri, akhirnya kesampaian juga punya kamera sendiri. Setelah beberapa waktu berkonsultasi dengan para master yang mengerti tentang kamera, saya pun memutuskan untuk meminang Canon EOS 450D dengan segala konsekuensinya **halah, konsekuensi uang maksudnya. Mumpung masih bujang juga, jadi ga terlalu ribet mikir sana-sini jika ingin membeli sesuatu

Siang itu, Sabtu 6 September 2008, dengan mengendarai revo pinjeman dari temen kantor, saya menerobos teriknya jakarta yang kala itu memang matahari sedang tersenyum dengan cerahnya. Tujuan saya adalah ke oktagon yang di Kemang Raya. Meski sempat nyasar, akhirnya saya bisa sampai ke sana dengan bantuan seorang senior memang pernah ke sana dan juga atas tuntunan kata hati.

Tanpa melalui sebuah percakapan yang bertele-tele akhirnya saya pun langsung menunjuk sebuah kardus di etalase. Setelah mengelus-elus body-nya yang aduhai, akhirnya saya langsung mencobanya untuk sekedar testing memastikan kamera yang saya beli tidak cacat. Setelah memastikan semuanya beres,  saya pun bertambah yakin untuk meminang Canon EOS 450D ditambah Sandisk SDHC 4 GB dan juga screen protector 3″. Hanya saja tas kamera tidak bisa saya dapatkan di oktagon Kemang, karna barang hanya ready di oktagon Gunung Sahari. Enaknya lagi, pembayaran bisa dilakukan dengan debit Mandiri, yang tentunya sangat menguntungkan bagi saya yang mempunyai rekening Mandiri.

Dalam perjalanan pulang, saya pun mampir ke JPC Kemang untuk membeli bebarapa tetek-bengek yang belum ada. Di sana, saya membeli tas lowepro, filter, dan juga lap untuk bebersih kamera. Alhamdulillah, satu dan sekian wishlist yang ada terpenuhi juga dari tabungan sendiri. Puas dan tak ada rasa penyesalan ***bad habbit banged.

Sekarang saatnya nabung lagi, buat beli lensa ama perkakas yang laen. ***alamat tabungan masa depan yang ga akan bertambah secara signifikan.

‘Senjata’ sudah ada, tinggal memaksimalkan keberadaannya saja.

eos 450d

eos 450d

camera & bag

camera & bag


antri tiket lebaran

Hari minggu kemaren akhirnya bisa merasakan juga mengantri tiket mudik lebaran seperti yang biasa dilakukan si tukang calo tiket tiap hari. Pasalnya, si calo tiket yang harusnya bertugas mengantri tiket sedang berlibur ke Bandung untuk seorang cowok cewek pujaan hatinya. Jadilah saya terpaksa ngantri sendiri merasakan beratnya perjuangan seorang A-nu, dan membatalkan rencana tarawih pertama di Bandung.

Pagi-pagi sekali sehabis sholat shubuh, saya berangkat dari Cilandak Barat dengan menumpang Kopaja P 20 jurusan Lebak Bulus – Ps Senen. Beruntung sekali hari itu adalah hari minggu, sehingga perjalanan melewati kawasan Mampang yang terkenal macet pun bisa lancar jaya tak ada hambatan yang berarti. Sesampainya di stasiun Gambir ternyata sudah begitu banyak orang yang senasib dengan saya. Loket antrian tiket sudah penuh sesak dengan manusia, bahkan beberapa di antaranya ada yang sudah datang sejak jam 3 pagi. Kapan ya bisa dapat tiket tanpa harus terjadi antrian yang seperti itu ??

Begitu datang langsung dikasih selembar form pemesanan yang ternyata juga ada nomer urut antrian dan loketnya, meski sebenernya saya ga yakin bakal bisa berjalan tertib sesuai nomer urut.

form pesan tiket

form pesan tiket

Selain tidak adanya indikator nomer urut di depan loket, sepertinya sistem antrean ini belum tersosialisakan dan lebih terkesan dadakan. Alangkah lebih baik pula jika calon pembeli tiket disediakan tempat duduk khusus agar terkesan lebih rapi. Bukan suasana ngantre seperti ini :

sebelum loket buka

sebelum loket buka

Foto di atas adalah suasana sebelum loket dibuka jam 7 pagi. Dan berikut suasana setelah loket resmi dibuka meski sudah ada form antrean :

setelah loket buka

setelah loket buka

Akhirnya setelah beberapa saat menunggu dan bersabar, Alhamdulillah dapet juga satu tiket Argo Dwipangga jurusan Jakarta – Solo untuk keberangkatan tanggal 30 September 2008 jam 8 pagi seharga 400 ribu rupiah. Senang hati ini, akhirnya perjuangan mengantri tiket membuahkan hasil juga.

tiket kereta

tiket kereta

Nah, sekarang tinggal memastikan untuk tiket balik ke Jakarta tanggal 4 Oktober 2008. Untuk urusan ini saya sudah menyerahkan segala urusan antri-mengantri kepada junior saya yang kurus ituh™.

Adakah rekan blogger yang mempunyai tujuan dan kereta yang sama pula hari itu ?


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.