Monthly Archives: November 2007

tak hanya diam

Selama seminggu ini, saya ditugaskan oleh kantor di divisi laen dan di gedung yang laen pula. Dalam seminggu ini, tiap pagi dan sore hari, saya harus menempuh perjalanan dari kawasan Cilandak-Jakarta Selatan menuju kawasan Thamrin-Jakarta Pusat. Kalau biasanya perjalanan ke kantor cukup ditempuh dengan jalan kaki selama 10 menit, kini harus ditempuh dengan jalan kaki 20 menit ditambah sekitar 1 jam perjalanan di atas angkutan umum.

Karna lagi tugas di divisi laen, otomatis akses ke internet ga sebebas dan semudah di “rumah” sendiri. Ditambah dengan koneksi yang ga sekenceng di “rumah”, membuat saya tidak secara rutin bisa update blog.

Kemaren (red -Rabu), tak seperti biasanya, saya naik busway yang ke arah Blok-M, padahal sebelum-sebelumnya cuma naek P19. Setelah nyampe di Blok-M, bukannya langsung pindah ke Metromini 610 jurusan Pondok Labu, saya malah jalan-jalan dulu dengan niatan sekalian ambil duit di ATM. Continue reading


dua puluh tiga tahun

hari ini
bersama desir angin yang menerpa wajah
di pernghujung pagi ini yang berhias tetes hujan
teruntai syukur yang tiada terhenti
padamu ya Rabb
atas setiap nikmat di hidupku

meski sering diri ini berbuat dosa,
yang terulang dan senantiasa terulang
meski terkadang lalai,
tiada kusebut namaMu di dalam setiap langkah
dan desah nafas yang terhembus
dan detak jantung yang belum berhenti

dua puluh tiga tahun ini,
tak kan ada sia-sia
satu tahun yang Engkau tambah,
adalah satu tahun semakin dekatku
dengan kematian

ampuni dosaku yang sepenuh bumi
berkahilah umurku meski hanya satu hari
kuatkan imanku sejauh apapun melangkah
luaskanlah ilmu dan rezekiku
ya Rabb..

 

Jatiluhur, 23 november 2007, selepas ashar

***ditulis ketika hari ini, Allah menambahkan satu tahun usiaku beranjak ke angka dua puluh tiga. Usia yang tak lagi muda jika dibandingkan dengan rata-rata hidup di dunia. Namun terlampau kecil dan sebentar jika ia dibandingkan dengan waktu di akhirat kelak. Astaghfirullah….

***Alhamdulillah, taun ini terlewatkan pergantian usiaku dengan sendiri. agar dapat direnungi segala hal yang berlalu, yang semuanya menjadi bagian masa lalu. tak kan terlupa, seberapa pahitpun ia. karna suatu saat pasti akan ada masa, untuk kembali mengambil hikmah dan pelajaran dari semua yang tlah berlalu.

***entah kapan dan dimana jantung ini akan berhenti berdetak, tapi kematian itu tak kan perndah datang terlambat atau terlalu cepat. ia akan datang tanpa permisi dan tanpa kompromi. dan kini, satu tahun tlah terlewat, semakin dekatlah dengan kematian itu. sementara..diri ini terlampau banyak berdosa. sering lupa mengingatMu. ampuni ya Allah…


hotel intan ke jatiluhur

Hari ini adalah hari terakhir berada di Purwakarta. Dari hari senin lalu, saya dapat tugas dinas ke Purwakarta untuk belajar tentang VSAT. Lebih tepatnya sih di daerah jatiluhur, yang letaknya tergolong di dataran tinggi nan damai. Bagi saya, minggu ini menjadi moment untuk sejenak melepaskan diri kepenatan kehidupan Jakarta dengan mengunjungi daerah yang relatif lebih nyaman dan tenang.

Ga ada macet, ga ada klakson yang bersahut-sahutan. Yang ada adalah jalan yang lancar dan kondisi jalan yang sepi. Masih banyak pohon hijau yang sejuk dipandang jika rasa bosan tiba-tiba datang. Saya masih bisa menikmati udara yang segar tanpa harus khawatir tercampur dengan asap kendaraan bermotor. Jarak dari hotel intan (red -tempat saya menginap selama seminggu ini) yang menurut kisaran saya sekitar 15 km, hanya ditempuh sekitar 15 menit pake mobil.

Ada ritual yang biasa saya lakukan di pagi hari sesampainya di kantor Jatiluhur. Begitu nyampe di kantor, saya biasa bikin secangkir torabika, dan duduk di belakang kantor memandang luasnya tanah berumput rapi dengan begitu banyak pohon yang rindang***Such a romantic place…halah. Sambil ngobrol dengan rekan-rekan yang disini, setiap pagi pun terlalui bersama kenangan yang senantiasa indah.

Continue reading


Bandung, antara cinta dan persahabatan (3-end)

Hari III, Selasa 6 November 2007

Sama seperti hari sebelumnya, hari itu pun saya baru bisa bangun jam 9 pagi***Bandung, sampe saat ini masih menjadi tempat ternyaman untuk tidur. Sehabis melaksanakan rutinitas pagi paket komplit, saya pergi ke kampus, karna siangnya ada janji dengan satu orang junior dan dua orang super duper junior. Rencananya saya akan membayar hutang saya untuk nraktir mereka.

Di hari ketiga-pun, masih saja hujan menyelimuti kota Bandung. Tapi ternyata, hal itu tidaklah menyurutkan langkah ketiga orang adik-adik saya untuk jalan-jalan dan makan-makan. Rencana semula akan ke Ciwalk, harus berubah  ke Ayam Goreng Suharti yang ada di deket jalan Burangrang. Hari itu pun menjadi makan siang yang cukup indah buat saya. Dengan campuran ayam goreng, kangkung, gudeg, dan sambel yang muanntappp, santap siangpun menjadi mak nyussss***Pak Bondan style.

Setelah acara ‘perampokan’ saya oleh tiga orang junior tadi, saya pun mampir dulu ke Palasari. Hasrat saya untuk membeli buku sudah tidak tertahankan lagi, meski saat itu hujan ga mau berhenti mengiringi perjalanan saya.

Continue reading


Bandung, antara cinta dan persahabatan (2)

***nglanjutin tulisan sebelumnya yang sempet tertunda

Hari II, senin 5 november 2007

Meski waktu baru saja masuk ke hari senin***tengah malam buta, justru saya baru memulai aktivitas wajib sebagai seorang bujang yang bertemu dengan bujang lainnya, yaitu begadang. Dengan bertemankan dua cangkir torabika mocca, semangkung mie goreng, 3 biji bakwan (red -kalo di Bandung, biasa disebut bala-bala), dan 1 pisang, obrolan dengan si PerjakaPatahHati™ mengalir begitu saja hingga waktu menunjukkan jam tiga pagi..***fiuhhhh…alamat ngebo lagi

Banyak hal yang saya obrolkan saat itu, tapi semuanya kami biarkan mengalir. Dari tiga jam ngobrol, sekitar 2/3-nya adalah tentang cinta dan pernikahan***tuh kan, ujung-ujungnya ini juga…bandel!!. Saya dan Lutfi pun berbicara apa adanya, sama-sama jujur, ga ada yang ditutup-tutupi. Alhamdulillah, banyak banget hal yang saya dapat malem itu, meski di sela-sela obrolan masih terselip hinaan-hinaan kejam ala kassmadji telkom. Satu hal yang paling saya ingsat, adalah ketika dia memberikan suatu rasionalisasi atas apa yang kini terjadi antara saya dan ‘seseorang’. Intinya sih, saya harus tetep maju tak gentar, pantang mundur sebelum ‘seseorang’ itu mengatakan tidak***tipikal kompor sejati juga ternyata si PerjakaPatahHati™ ini. Saya yakin, ada ketulusan yang sangat berarti dari saran-saran malam itu, dan bukan hanya sekedar kata-kata yang menenangkan saja, yang membuat saya untuk nekad maju ke medan perang orang tua ‘seseorang’ tersebut.

Meskipun sudah mengundurkan diri dari warung Mang Ade, ternyata obrolan pun masih berlanjut di kamar istana. Walhasil, sampe adzan shubuh pun, mata masih belum terpejam. Setelah sholat, dua bujangan yang telah disebutkan di awal menjemput mimpi berharap bertemu bidadari.***pikiran dah ngelantur kemana-mana kalo udah dalam kondisi sekarat…heuheuhee..

Alhamdulillah, jam setengah 10 pagi bangun juga. Itu pun juga karna perut dah berasa ga karuan pengin segera melepaskan beban yang mendera di sekujur tubuh***halah..ga segitunya ding..cuma pengin b***r doang. Ritual pagi hari dengan paket komplit pun akhirnya dijalanka. Butuh waktu lebih dari 30 menit, mulai dari melepas ‘beban’, gosok gigi, mandi, bersihin muka, dan nyuci baju***tapi ga pake luluran lho. Dan setelah selesai, giliran Lutfi yang menjalankan ritual pagi-nya.

Continue reading


Bandung, antara cinta dan persahabatan (1)

Seminggu kemaren, ada kesempatan tiga hari mengunjungi Bandung untuk kesekian kalinya dari tanggal 4 sampe 6 november. Selain untuk refreshing otak yang mulai sedikit nge-hang oleh kepenatan suasana ibu kota, juga memang ada beberapa urusan yang harus diselesaikan di Bandung. Dan baru sekarang diberi kesempatan untuk menuliskan cerita sebagai oleh-oleh kegiatan ‘mblayang’ saya minggu kemaren.

Hari I, minggu 4 november 2007

Berangkat dari kantor (red -hari sabtu-nya kebagian shift malem) jam 07.20 dan harus segera meluncur ke Cawang, karna di sana sudah menunggu Gus Arief ama Gus Gur dari Istana Langitan dengan mobil dinas salah satu operator seluler tanah air. Nyampe Cawang jam setengah sembilan, langsung masuk mobil, dan lanjut perjalanan ke Bandung. Kondisi tol Cipularang yang tidak terlalu rame pada minggu pagi saat itu, membuat kami bertiga bisa sedikit menikmati perjalanan. Sempet mampir sebentar di rest area km 57, untuk kebutuhan mendesak karna saya sudah pepi ***PEngin PIpis, alhamdulillah bisa masuk kota Bandung melalui pintu tol Pasteur sekitar jam setengah sebelas.

Agenda pertama di Bandung adalah untuk menghadiri pernikahan sahabat saya Dones dan Rissa yang bertempat di Hotel Mice jalan Suci. Alhamdulillah, nyampe di tempat pas acaranya juga baru dimulai, jadi masih bisa ngelihat ‘kirab temanten’ ke pelaminan ***Ehm….waduhhh…kapan ya bisa nyusul??daku dah terlalu bingung ketika ditanya “kapan mo nyusul??”. Di tempat itu pula akhirnya bisa reunian ama temen-temen kampus dulu. Sambil membabat abis mencoba hampir semua makanan yang ada di sana ***sumpehh…..perut saat itu udah merintih kesakitan karna kelaperan, tentunya diisi ama obrolan dengan teman-teman ato hanya sekedar ‘say hello’ aja.

Ga disangka, di sana malah ketemu ama ‘dia’***speechless, kambuh lagi. Entah sudah berapa lama saya tidak bertemu ‘dia’, bahkan saya pun ga ingat kapan terakhir kali bertemu ‘dia’. Makanya, begitu saat itu ketemu dan berhadapan langsung, jantung ini serasa berhenti berdetak***halah….hiperbola banget sih. Pokoknya surprise banget bisa ketemu, eh….ga juga ding, lha wong sebelumnya saya sudah memprediksi kalo di sana bakal ketemu ‘dia‘***jadi kalo gini, apa namanya ya?.

Continue reading


sakit = nambah lemak

Entah kenapa tiap kali saya habis sembuh dari sakit, pasti malah nambah gemuk berat badan. Saya juga tidak tahu, apakah ini sebuah hal yang normal atau hanya terjadi pada satu orang saja yaitu saya. Memang sih, saya ini tipikal orang yang keras kepala untuk urusan minum obat kalau lagi sakit. Tiap kali saya sakit, saya berusaha untuk tidak minum obat-obat kimia, dan ternyata hal tersebut berhasil saya pertahankan sampai saat ini. Terakhir kali saya minum obat kimia adalah ketika saya terpaksa opname 11 hari di rumah sakit karna kangen dia tipes pada oktober 2003. Setelah itu, obat yang saya minum hanyalah madu atau antangin (ini termasuk obat kimia ga ya??) plus air mineral satu galon liter.

Dua minggu lalu, saat saya lagi main di Bandung, berat badan saat itu 62 kg. Setelah saya balik ke Jakarta, malah kena musibah beruntun. Pertama tertimpa sakit tenggorokan, lalu disusul dengan batuk, pilek, demam, dan akhirnya ditutup dengan diare. Mau ga mau saya harus merelakan satu hari libur plus satu hari kerja untuk istirahat untuk mengembalikan kondisi badan.

Tiga hari setelah kondisi badan kembali normal, ternyata berat saya berkurang menjadi 60 kg. Itu artinya karna sakit berat saya berkurang 2 kilo. Saya sebenernya cukup senang ketika berat badan bisa turun. Akan tetapi kegembiraan tersebut tidaklah berlangsung lama. Kini, 9 hari setelah saya sakit berat badan saya malah menjadi 64 kg.****fiuhhhh, cwapek dwehh.

Turun dua kilo, tapi nambahnya empat kilo. Alhasil, lingkar celana saya semakin mengecil ***ato lingkar perut saya yang semakin membesar??. Aneh…..

::jakarta, setengah satu pagi, masih di kantor::


drop out

Seminggu yang lalu, ketika saya mblayang ke Bandung untuk suatu pertemuan delapan mata (saya, GuruBesar, PerjakaPatahHati, BegundalNekad), saya dapat cerita ngecuprus dari Drop OutManusiaAneh dan RajaFantasiIndonesia tentang sebuah buku yang berjudul “Drop Out”. Dari cerita mereka berdua yang bagai pelawak menggebu-gebu, saya bisa mengambil kesimpulan sementara kalo buku yang lagi diceritain itu termasuk tipe novel fiksi kocak dan konyol. Dan saya pun cukup dibuat penasaran juga untuk segera hunting buku tersebut. Tapi sayang, keinginan untuk segera meminang memiliki buku itu harus tertunda karna memang waktu yang tidak memungkinkan untuk hunting buku di Bandung.

Sampai akhirnya, dua hari kemudian ketika saya sedang menikmati kesendirian berbelanja di carrefour ***untuk kesekian kali terpaksa sendiri, ga nyangka malah nemuin itu buku. Tanpa berpikir panjang, buku berjudul “Drop Out” pun masuk ke dalam keranjang belanja saya.**untuk kesekian kali pula, ga bisa nahan diri untuk beli buku…fiuhhh.

Saya prediksi, buku itu akan tamat hanya dalam hitungan jam saja. Dan ternyata benar adanya. Hanya dalam tempo kurang dari empat jam, buku setebal 198 halaman itu habis sudah.***glekkk…lezat banget. Dan selama hampir empat jam tersebut saya menjadi seperti orang gila yang ketawa ngakak sendirian di kamar.

Continue reading


persinggahan kerinduan

***bersama melewati dingin malam, menerobos kabut tebal yang diiringi gerimis-gerimis kecil. bersama dalam hangatnya canda tawa, kala itu, sepanjang Dayeuh Kolot – pemandian air panas Cimanggu Ciwidey

Sepenggal peristiwa itu kembali memenuhi ruang ingatanku, tanpa menyisakan sedikit saja kesempatan untuk menghindar. Dan tanpa permisi, jiwa sentimentil pun menguasai seluruh kenangan yang ada. Pemandian air panas Cimanggu, menjadi sebuah kebersamaan terakhir yang entah kapan dapat terulang lagi. Foto-foto itu menjadi saksi betapa kita pernah mengukir sebuah kenangan manis yang tak kan pernah tergantikan. Bahwa kita pernah bersama, berjalan beriring, dan melewati semuanya hingga akhirnya waktu jua yang memisahkan.

istana perjuangan

Tahukah sobat, di sini sepi, sunyi, tak ada canda tawa dan hangatnya senyum yang menghiasi hari. Aku sudah terlalu lelah melewati semuanya sendiri. Tapi aku tidak ingin menyerah. Karna aku yakin, di suatu saat kita akan berkumpul lagi, dan engkau pasti tidak ingin melihatku hancur dan kalah, seperti harapku yang tak ingin melihat engkau lemah. Hanya kenangan-kenangan itulah yang senantiasa menjadi pengikat kita, meski kita tak lagi bersama.

Kukira dulu kita akan terus bersama menggapai cita, mengejar mimpi yang setinggi bintang di angkasa. Kusangka dulu engkau akan selalu ada disampingku, berjalan beriringan. Memapahku saat langkah ini mulai terasa berat. Memberikan senyum terhangatmu ketika hati mulai gundah.

Tapi ternyata tidak…

Tak selamanya kita harus bersama dan berjalan beriringan. Karna kini, aku harus sendiri, menggapai semua asa yang masih tersisa dan janji yang masih terpatri. Hingga nanti di suatu saat, kita akan bertemu dan bercerita bahwa kita tlah berhasil melewati semua.

Air mata ini jatuh lagi, dan aku tlah sampai di sebuah persinggahan yang bernama k.e.r.i.n.d.u.a.n.

::jakarta, jam 3 dini hari, saat rasa rindu yang tak lagi dapat terbendung::
sebuah persembahan cinta untuk kebersamaan di Istana Perjuangan Bandung, love you all guys…


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.