***nglanjutin tulisan sebelumnya yang sempet tertunda
Hari II, senin 5 november 2007
Meski waktu baru saja masuk ke hari senin***tengah malam buta, justru saya baru memulai aktivitas wajib sebagai seorang bujang yang bertemu dengan bujang lainnya, yaitu begadang. Dengan bertemankan dua cangkir torabika mocca, semangkung mie goreng, 3 biji bakwan (red -kalo di Bandung, biasa disebut bala-bala), dan 1 pisang, obrolan dengan si PerjakaPatahHati™ mengalir begitu saja hingga waktu menunjukkan jam tiga pagi..***fiuhhhh…alamat ngebo lagi
Banyak hal yang saya obrolkan saat itu, tapi semuanya kami biarkan mengalir. Dari tiga jam ngobrol, sekitar 2/3-nya adalah tentang cinta dan pernikahan***tuh kan, ujung-ujungnya ini juga…bandel!!. Saya dan Lutfi pun berbicara apa adanya, sama-sama jujur, ga ada yang ditutup-tutupi. Alhamdulillah, banyak banget hal yang saya dapat malem itu, meski di sela-sela obrolan masih terselip hinaan-hinaan kejam ala kassmadji telkom. Satu hal yang paling saya ingsat, adalah ketika dia memberikan suatu rasionalisasi atas apa yang kini terjadi antara saya dan ‘seseorang’. Intinya sih, saya harus tetep maju tak gentar, pantang mundur sebelum ‘seseorang’ itu mengatakan tidak***tipikal kompor sejati juga ternyata si PerjakaPatahHati™ ini. Saya yakin, ada ketulusan yang sangat berarti dari saran-saran malam itu, dan bukan hanya sekedar kata-kata yang menenangkan saja, yang membuat saya untuk nekad maju ke medan perang orang tua ‘seseorang’ tersebut.
Meskipun sudah mengundurkan diri dari warung Mang Ade, ternyata obrolan pun masih berlanjut di kamar istana. Walhasil, sampe adzan shubuh pun, mata masih belum terpejam. Setelah sholat, dua bujangan yang telah disebutkan di awal menjemput mimpi berharap bertemu bidadari.***pikiran dah ngelantur kemana-mana kalo udah dalam kondisi sekarat…heuheuhee..
Alhamdulillah, jam setengah 10 pagi bangun juga. Itu pun juga karna perut dah berasa ga karuan pengin segera melepaskan beban yang mendera di sekujur tubuh***halah..ga segitunya ding..cuma pengin b***r doang. Ritual pagi hari dengan paket komplit pun akhirnya dijalanka. Butuh waktu lebih dari 30 menit, mulai dari melepas ‘beban’, gosok gigi, mandi, bersihin muka, dan nyuci baju***tapi ga pake luluran lho. Dan setelah selesai, giliran Lutfi yang menjalankan ritual pagi-nya.
Continue reading